"Mun
ajelen asongkok cong"
(kalau
jalan jalan pakai kopyah/peci nak"
itulah
sebuah seruan dan suruan orang tua ketika melihat anak muda yang tidak memakai
peci ketika keluar rumah. Dan juga sayapun mengalami teguran yang sangat sinis
dan sampai sampai menyisakan luka dari seorang pemuka masyarakat kata orang
orang dan juga adalah sesepuh1. Karna memang tidak ada orang yang lebih tua
dari dia.
Saya
fikir ini adalah pemahaman yang salah ketika seseorang mereduksi pemahaman
agama hanya dengan label yang itu merujuk pada songkok dan sarung.
Jika
orang tidak memakai songkok maka dia melakukan dosa besar. Jika tidak memakai
sarung maka dia pembangkang. Bukan malah seperti itu pemahamanya seharusnya.
Dan itu sangat ironis sekali ketika songkok dikultuskan. Atau songkok menjadi
simbol agama. Padahal songkok atau peci kan hanya hasil budaya setempat.
Contohnya saja, songkok hitam yang kata orang orang songkok nasional, itukan
hasil budaya indonisia. Odheng hasil budaya madura. Peci putih yang kata
kebanyakan orang di sebut songkok ajjhi, sebab peci putih adalah simbol orang
yang melakukan ibdah haji adalah hasil dari budaya pergi haji bagi orang
indonisia khususnya madura, bahkan ada seorang haji yang tidak memakai peci
dianggap melakukan dosa besar yang tidak bisa diampuni lagi.
Mungkin
disinilah kesalahan pemahaman kebanyakan orang tentang songkok. Karna pecih
putih adalah hasil dari orang atau oleh oleh dari orang yang melakukan ibadah
haji. Sedangkan Mekkah dan Madinah adalah tempat pusatnya islam dan juga
tempatnya Rasulullah berjuang menyebarkan agama islam. Jadi mereka memahami
songkok/peci adalah bagian dari peninggalan nabi yang diwajibkan, dikultuskan
dan yang meninggalkanya termasuk melakukan dosa besar.
Padahal
tidak seperti itu.
Buabu
Longos, 04, 05, 2013.
*Tulisan ini di terbitkan di Aksara
*Tulisan ini di terbitkan di Aksara
