Menengok Kembali Masalah Budaya Songkok

Gindaga
0


"Mun ajelen asongkok cong"
(kalau jalan jalan pakai kopyah/peci nak"
itulah sebuah seruan dan suruan orang tua ketika melihat anak muda yang tidak memakai peci ketika keluar rumah. Dan juga sayapun mengalami teguran yang sangat sinis dan sampai sampai menyisakan luka dari seorang pemuka masyarakat kata orang orang dan juga adalah sesepuh1. Karna memang tidak ada orang yang lebih tua dari dia.
Saya fikir ini adalah pemahaman yang salah ketika seseorang mereduksi pemahaman agama hanya dengan label yang itu merujuk pada songkok dan sarung.
Jika orang tidak memakai songkok maka dia melakukan dosa besar. Jika tidak memakai sarung maka dia pembangkang. Bukan malah seperti itu pemahamanya seharusnya. Dan itu sangat ironis sekali ketika songkok dikultuskan. Atau songkok menjadi simbol agama. Padahal songkok atau peci kan hanya hasil budaya setempat. Contohnya saja, songkok hitam yang kata orang orang songkok nasional, itukan hasil budaya indonisia. Odheng hasil budaya madura. Peci putih yang kata kebanyakan orang di sebut songkok ajjhi, sebab peci putih adalah simbol orang yang melakukan ibdah haji adalah hasil dari budaya pergi haji bagi orang indonisia khususnya madura, bahkan ada seorang haji yang tidak memakai peci dianggap melakukan dosa besar yang tidak bisa diampuni lagi.
Mungkin disinilah kesalahan pemahaman kebanyakan orang tentang songkok. Karna pecih putih adalah hasil dari orang atau oleh oleh dari orang yang melakukan ibadah haji. Sedangkan Mekkah dan Madinah adalah tempat pusatnya islam dan juga tempatnya Rasulullah berjuang menyebarkan agama islam. Jadi mereka memahami songkok/peci adalah bagian dari peninggalan nabi yang diwajibkan, dikultuskan dan yang meninggalkanya termasuk melakukan dosa besar.
Padahal tidak seperti itu.

Buabu Longos, 04, 05, 2013.

*Tulisan ini di terbitkan di Aksara
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default