-Perempuan Penampung Resah
An, Mungkin keluh kesah sudah menggunung yang tertampung di dadamu.
Mulai seluet luka dan tetas embun dari pelupuk matamu yang tak kunjung terurai
Sesekali Menetes perlahan kala petang mulai menyapa
An, kadang semua itu meluap-meluap lewat nada bicaramu
Yang kadang aku tak sadar jika itu adalah bentuk rasa cintamu yang kau salurkan lewat nada bicaramu yang berapi-api
Kadang kau juga merajuk ketika tak satupun kata manis memujimu keluar dari bibirku yang bau asap rokok
Tapi kau tahu.
Semua yang kau mau terus kuperjuangkan sampai tetes peluh ini mengering di bajuku
Kau ingat kan?
Setiap hari kau mencuci bajuku yang bau peluh itu, baunya aneh kan?
Iya, baunya sangat menyengat, sebab itu adalah tanda jika aku tak pernah lupa akan dirimu, tak pernah meninggalkan dirimu
An, jika tak ada sekuntum bunga, jangan simpan resahmu di dada
Uraikan jika petang sudah membantang, perlahan resahmu akan terurai. Meskipun kadang pelipis mataku terangkat sedikit.
Tanggerang, Jumat 13 Februari 2026
*Puisi pertama setelah lama tidak menulis lagi bertahun tahun
