Bermula dari percakapan-percakapan
kecil
Yang melahirkan banyak air mata dan
jerit
Tawa-tawa terganti menjadi riak
gelombang yang meriuhkan
Tiba-tiba sekerumun air datang
mengacungkan tangannya
Menghantam sisa-sisa percumbuhan penghuninya
“Kami hadir untuk membasuh permukaan
bumi. Sebab bumi semakin kotor”
Tatapan matanya nanar menghanyutkan
kesedihan yang mendalam
Sementara penghuninya tetap melahap
semua yang ada
Memainkan, menipu, menjelma penjahat
Gunung-gunung juga merasa harus
bercakap saat ini
“Dan kami datang atas nama
penghianatan.
Otak-otak penghuni akan kami ganti
dengan debu-debu yang meluap
Dan darahnya adalah larfa yang
melelah dari moncong kami”
Tak ada suara lagi yang terdengar,
semua sepi
Sumenep. 08-11-2014
*Juara 3 dalam lomba menulis puisi dengan tema kesehatan dan bencana KSR-PMI Politeknik Negeri Padang November 2014
*Juara 3 dalam lomba menulis puisi dengan tema kesehatan dan bencana KSR-PMI Politeknik Negeri Padang November 2014
