Menulis Bibirmu

Gindaga
0


Mulanya aku ingin menuliskan alismu yang berkelok serupa jalanan di kotaku.

Menuliskan bibirmu yang diiris tipis lalu dibumbuhi madu serupa terotoar jalan yang dicat rapi menjelang Agustusan.

Namun, perlahan ingatanku terpental mengingat wajahmu, melakat perlahan.

Aku kembali menghadirkan ingatan tentangmu yang telah ranum beberapa tahun silam.

Kueja mulai dari tatapan matamu, tajam.

Lalu senyummu yang menghujam perlahan pada daun pintu di hatiku.

Lipstik yang dioleskan memerah merona, lalu mekar.

Ada bunga tumbuh di sana, tak sebarap harum memang, namun mewarnai seketika dada ini.

Kadang aku ingin memegangnya sekali lagi,  bukan untuk yang terakhir kali, namun untuk yang kedua kali, dan mungkin untuk yang ketiga kali.

Entah nanti apakah akan ada yang ke empat kali atau malah tak ada hitungan lagi.

Mulanya aku hanya ingin menuliskan tentang bibirmu, namun rasanya, tak akan berakhir sampai di sini.

Batang-batang, 12 Agustus 2019

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default